Di persimpangan lorong waktumu dan waktuku
tempat kita pertama bertemu
Kau tersenyum menyapa
mengulurkan tangan
menutupi satu demi satu kemungkinan
Bagaimana aku bisa lupa senyummu
Kecuali itu yang melupakanku
atas kesedihan, atas hujan
dari balik pintu-pintu
Bagaimana kulupakan keramaian di persimpangan itu
Sungguhpun hanya ada kita
mencari setitik kebebasan di padang yang luas
Entah kenapa aku merasa sepi
saat senja temaram menampilkan mendung
Saat di persimpangan itu
tidak kutemu batang hidungmu
Mungkinkah kau datang lagi
ya, ke persimpangan itu
nah, aku hanya bisa menunggu
dibawah mendung muram
dibawah mendung muram
Aku melupakannya,
payungku
Barangkali aku harus segera pergi
sebelum langit mulai menangis
Karena aku benci hujan
dari langit, atau dari balik kantung matamu
waktu mereka sama-sama membasahi pundakku
Surabaya, 11 Februari 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar