Selasa, 01 April 2014

Sahabat untuk Melihat

Katamu
"Pagi ini begitu indah
Mentari bersinar cerah
dan menularkan senyum merekah"

"Burung-burung terbang kian kemari
Bersama rerantingan
tertiup angin menari-nari"

"Di bukit sana
Taman bunga bermekaran
Dikerumuni kupu-kupu bersayap kecoklatan
Keelokannya sungguh begitu menawan"

"Nun jauh disana
Pasir putih terlindungi awan
Didera ombak terus-terusan
..."

"Indah itu apa?"

Aneh
Kenapa kau terdengar malas sekarang
kala kuhela bicaramu

"Cerah itu bagaimana?"

Sungguh aneh
Bukannya menjawab
Kau hanya merangkulku
erat

Selasa, 04 Juni 2013

Membuat Procedure Function pada VB.net

Procedure dan Function adalah hal yang penting dipelajari dalam VB.net karena dengan menggunakan Procedure dan Function, sebuah program dapat disederhanakan dan troubleshootingnya akan lebih mudah dilaksanakan.

Berikut adalah contoh program sederhana yang menggunakan procedure function. Program ini terbagi menjadi dua. Satu untuk program bilangan fibonacci dan satunya lagi adalah program menentukan ganjil-genap bilangan.

Download program di link: http://www.mediafire.com/?zdol6macaio4c8v

Program Operasi Matriks 2 x 2



Dalam perhitungan matriks ada beberapa operasi yang dapat dilaksanakan, diantaranya adalah penjumlahan, perkalian, dan determinan. Operasi-operasi pada matriks agak rumit dan memerlukan ketelitian. Dengan program operasi matriks 2 x 2 operasi-operasi dalam matriks 2 x 2 dapat diselesaikan dengan cepat. 

Berikut adalah link download dari program, penjelasan, beserta flowchart program
penjelasan download di link: http://www.mediafire.com/?tmno63yh7gbi8vd
flowchart download di link: http://www.mediafire.com/?lpk8ar3uonzgcpa


Minggu, 14 April 2013

Angin Ini


Hari ini angin terdengar gaduh
namun sedikit kudengar angin ini menangis
Ia menangis bukan karena sedih,
melainkan bahagia, bukan?

Angin ini adalah temanku
bukan karena menyejukkan
bukan karena menenangkan
bukan karena menakutkan
karena ia menemaniku, maka
angin ini adalah temanku

Angin ini teman setia
Setia bersamaku
semenjak kakiku menginjak dunia
hingga maut menjelang
Aku sering melupakan angin ini
tapi ia selalu kutemukan bila aku mencarinya
angin ini teman setia

Aku tidak bisa terus bersama angin ini
Angin ini tahu, bukan?
Satu-satunya yang menemaniku nanti
hanyalah amalanku saja
Angin ini bahagia, bukan?
Melepasku atas panggilan Sang Pencipta,
yang selalu dipujanya
Angin ini mengerti, bukan?
Bahwa teman, kerabat, keluarga
adalah pinjaman Yang Maha Kuasa
akan diambil pada waktunya

Sementara angin ini masih menangis kecil kudengar
Aku mulai menangis sendiri pula
Apakah aku terlalu cinta dunia?

Aku tak punya waktu berpikir
Mendadak angin ini berubah nada, berubah rupa
Angin ini tiba-tiba membeku
Angin ini tiba-tiba menyesakkanku
Angin ini masih menjadi teman setiaku
untuk terakhir kali

Selasa, 09 April 2013

Ladang Hitam







Siapakah? Siapa pernah ke ladang hitam? Siapa pernah melihatnya? Apa benar kabar mereka? Mereka bilang disana layak, udara dan airnya menyegarkan. Mereka bilang disana aman, tak banyak bencana melanda, jagatnya dalam keseimbangan. Mereka bilang disana nyaman, siangnya mencerahkan, malamnya melelapkan. Mereka bilang disana subur, banyak kehidupan, berlimpah tetumbuhan. Mereka bilang disana indah, penuh dengan frekuensi nada dan warna berbeda. Apa benar kata mereka? Seistimewa itukah ladang hitam? Kenapa bisa demikian? Siapa yang diamanahi ladang hitam? Bagaimana kita kesana?

Mereka tidak memberitahu kecuali untuk menambah rasa ingin tahu. Masih banyak yang belum kita ketahui tentang ladang hitam. Siapapun, siapapun yang mengetahui, tolong beritahu kita tentang ladang hitam. Tolong beritahu kita kebenaran tentang ladang hitam!

Ladang hitam tidak seperti yang mereka katakan. Tepatnya, ladang hitam tidak lagi seperti yang mereka katakan. Yang mereka kabarkan itu tidak lain adalah ladang hitam 1000 atau 2000 hari lalu. Sekarang ladang hitam sudah berubah tajam. Ladang hitam seakan kelihangan kelayakan, keamanan, keseimbangan, kenyamanan, keindahan. Ladang hitam telah kecurian. Ladang hitam telah dihabiskan.

Siapa yang menghabiskan? Tidakkah ladang hitam itu kaya?

Ladang hitam sangatlah kaya. Ladang hitam sangatlah subur, tidak bisa dibandingkan dengan ladang kita. Hanya saja ladang hitam tidak sanggup melayani khalifahnya. Sekaya apapun ladang hitam, tak akan cukup untuk menuruti hawa nafsu khalifahnya. Maka jadilah ladang hitam dihabisi perlahan-lahan. Itulah yang akan kita jumpai bila kita ke ladang hitam sekarang, atau bahkan untuk seterusnya.

Seburuk itukah khalifah ladang hitam? Setamak itukah? Seperti apa khalifah ladang hitam? Tidak bisakah kita gantikan? Apakah kita tidak bisa mengubah ladang hitam menjadi lebih baik? Apakah ladang hitam sudah akan habis umurnya?

Ya, ladang hitam sudah mendekati akhir masanya. Atau setidaknya itu yang bisa kita lihat dari situasi ladang hitam bila menilik sabda Rasulullah. Karena itu sepertinya suasana ladang hitam tak akan lebih baik kecuali untuk sekejap masa. Ladang hitam pun makin buruk rupa dengan tingkah khalifah. Khalifah ladang hitam nyatanya diciptakan dalam keadaan sebaik-baiknya, tapi banyak dari khalifah itu berakhir pada tingkatan yang buruk. Khalifah dirasuki hawa nafsu dan khalifah ladang hitam sebelumnya yang iri hati. Sebagian dari khalifah bahkan membunuh sesama. Sebagian tidak saling mengerti dengan sebagian lain. Khalifah itu banyak yang hidup dalam politik, dalam trik, dengan licik. Khalifah itu banyak yang hidup dengan egois. Melakukan sesuatu hanya untuk kepentingan khalifah sendiri, bahkan sekalipun sesuatu itu bermanfaat untuk makhluk lain. Dan yang terparah, dengan semua nikmat yang diberikan Allah, justru banyak khalifah yang tidak bersyukur padaNya.

Sesungguhnya kita tidak yakin akan bisa menggantikan khalifah, karena bisa jadi kita akan berbuat lebih banyak kerusakan dari khalifah. Jika yang diciptakan sebaik-baiknya saja berbuat banyak kerusakan, apalagi kita? Tentu kita akan tergoda dengan megahnya ladang hitam. Kita tidak ingin menjadi seperti khalifah bukan? Hanya inilah berita yang bisa kita sampaikan menurut kebenaran kita, menurut apa yang kita saksikan.

Rasanya tidak ada yang bisa kita lakukan tentang berita ini. Tidak ada yang bisa kita lakukan terhadap ladang hitam. Baiklah kalau memang benar yang kita katakan.   

Tapi entah mengapa kita ingin kabar ini benar, tapi juga kita ingin ia salah untuk suatu yang lain. Layaknya bagaimana paragraf-paragraf ini dibuat, seperti mimpi buruk tentang kematian.

Jumat, 15 Februari 2013

Jejak yang Nyaris Hilang Disapu Hujan





Tapak sepatunya menghujani tanah yang agak lembab, meninggalkan jejak tipis yang nyaris hilang disapu hujan. Disekitarnya pepohonan berbagai jenis nan lebat begitu ramah memberi “tudung hujan” gratis pada orang lewat, selain memang selalu menyediakan udara segar yang dihirupnya dan mereka. Tanah lembab macam ini sudah lama tidak dipijak sepatu mengkilat milik dia, sementara sepatunya terbiasa aspal perkotaan yang keras. Begitu pula udara sesegar saat ini lama tak dihirupnya selagi paru-parunya terbiasa udara tercemar. Sudah begitu lama ia tidak merasakan suasana desa seperti yang dipikirnya desa masa kecilnya ini. Bahkan faktanya semenjak terakhir ke sana untuk mengajak orangtuanya pindah ke kota, dia belum pernah ke tempat yang bisa disebut desa. Tapi dia tidak merasakan. Rasanya baru kemarin dia berangkat dari desa itu.

Jejak langkahnya menuju tempat yang ia yakini sebagai desa masa kecilnya itu berhenti sejenak di beberapa tempat. Agaknya ia sudah lupa tentang desanya yang dulu begitu dihafalnya. Barangkali memori otaknya sudah cukup banyak terpakai untuk mengingat projek-projek industri besar yang dikerjakannya. Atau barangkali tempat ini memang belum pernah disinggahinya?

”Assalamu’alaikum, wah, nak Dedi, kapan kembali dari kota? Udah lama nggak kelihatan, Ayo mampir ke rumah bapak!” seorang bapak tua menegurnya. “Wa’alaikumsalam.” Dedi terkejut bertemu orang yang tidak dikenal tiba-tiba menawarinya mampir. Ia juga terkejut karena orang itu tahu namanya, namun Dedi tidak menganggapnya spesial, karena Dedi memang sangat terkenal di kotanya. Barangkali popularitasnya sudah sampai ke desa-desa, pikirnya. Sebagaimana yang biasa dilakukannya di kota pada orang yang tidak dikenalnya, Dedi secara spontan menolak ajakan orang tua itu. “Maaf pak, saya masih ada keperluan.” “Oh, ya sudah, kapan-kapan mampir, ya!” Dedi mengangguk. “Assalamu’alaikum!” “Wa’alaikumsalam.” Orang tua itu berjalan pelan meninggalkannya.

Dedi melanjutkan langkahnya, tapi tak lama dirasakan ada sesuatu yang dilupakannya. Dedi membalikkan badan ke arah orang tua tadi. Di belakang baju putihnya yang kusam tertulis tulisan hitam yang cukup jelas dibaca “TPA Al-Kahfi”. Garis kejadian berputar balik satu demi satu di depan matanya. Tunggu.

Setelah diingat-ingat, dia sadar. Ternyata bapak tadi adalah guru mengajinya dulu, Pak Amat. Betapa lama Dedi tidak mengunjunginya hingga lupa wajahnya. Pak Amat adalah seorang yang ramah dan bijak sejak dulu. Bila ia melihat murid-muridnya bermain-main saat sedang mengaji atau membuat kenakalan lain, ia tidak akan memarahi mereka melainkan menasihatinya. “Hati dan pikiran yang dipenuhi nafsu amarah tidak bisa digunakan untuk memecahkan masalah.” begitu katanya dulu. Bila nasihatnya tidak cukup, ia akan keluar dari pengajian dan menolak memberi pengajian bila yang diberi nasihat tidak mau berubah. Pada waktu itu, Dedi begitu mengagumi Pak Amat, dan bercita-cita ingin jadi ustad seperti Pak Amat. Begitu malunya dia karena sampai melupakan wajah Pak Amat. Sejenak kemudian Dedi menemukan dirinya mengikuti jejak yang nyaris hilang disapu hujan milik Pak Amat. 

*     *     *

Jejak itu berhenti di depan rumah yang merapuh karena usia, sebagaimana pemiliknya. Kemudian sesosok bayang keluar dari pintu kamar dalam rumah yang agak gelap karena mendung. Ia adalah Pak Amat. “Assalamu’alaikum.” Dedi menyapa “Wa’alaikumsalam, nak Dedi, ayo masuk!” ajak Pak Amat. “Hm, iya, boleh?” “Tentu boleh, bapak juga sedang tidak ada kerjaan, ayo!” Dedi melangkah masuk.

Setelah dipersilahkan duduk, Pak Amat meninggalkannya menuju dapur yang tidak begitu jauh di belakang. “Nggak perlu repot-repot pak.” “Tidak apa-apa.” Pak Amat yang berhenti sebentar untuk menoleh melanjutkan jalannya. Dedi yang terduduk di ruang tamu yang lumayan kecil itu mulai melirik-lirik, berharap menemukan petunjuk tentang memorinya dahulu yang ternyata sudah nyaris terkikis habis. Tapi rasanya itu tidak akan berjalan baik, karena seingatnya dia belum pernah ke tempat itu. Akhirnya ia hanya termenung di ruangan itu. Lama. Ia mengantuk. Sesaat Dedi melihat loteng, mirip loteng kamarnya.

Ketika Dedi membuka mata, Pak Amat sudah duduk didepannya dengan dua cangkir kopi di meja. “Nak Dedi kelelahan, ya? Kalau begitu malam ini nginap disini saja, ya?” “Eh, nggak, nggak apa-apa, cuma agak bosan tadi.” Sejenak Dedi ragu akan apa yang terjadi dengannya. “Oh, ya sudah kalau memang begitu” Pak Amat melanjutkan “Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan ibu dan bapak?” Maka setelah itu dimulailah percakapan antara dua orang laki-laki seperti yang biasa kita lihat di kedai-kedai, ditemani kopi hangat yang begitu cocok dengan temperatur di luar, temperatur yang sangat jarang ditemui Dedi di kotanya.

Mereka bercakap dengan santai, membiarkan kata demi kata keluar dari pita suara dan diterima gendang telinga dengan mudah, tanpa tekanan, tanpa tergagap, tanpa dikejar waktu. Biarpun diluar hujan yang mulai deras menghasilkan suara yang tidak kecil, tapi mereka bisa mendengar dengan begitu jelas, seperti tidak ada informasi yang tertinggalkan setiap mereka berucap. Begitu pula, Dedi merasakan waktu berjalan. Ia bisa melihat setiap gerakan jarum panjang jam dinding di ruang tamu itu. Waktu terasa melambat, menunggu dengan sabar tiap-tiap suara yang dibuat mereka bergerak pelan agar tak terluka. Lagipula, ia tak punya suatupun yang menunggunya, maka ia bisa bebas menunggu semaunya. Percakapan mereka kelihatan akan segera mencapai akhirnya.

Saat itu Dedi sadar. Ia tak pernah merasakan waktu berjalan belakangan ini, saat di kotanya. Waktu begitu cepat di kotanya. Saat melakukan sesuatu, ia telah berpikir tentang hal lain yang akan dilakukan setelahnya. Saat mengatakan sesuatu, ia harus berpikir apa yang akan dijumpainya akibat itu. Waktu tidak menunggu di kotanya, waktu tidak memberi banyak kesempatan, tidak melonggarkan tekanan. Sekali dia terpeleset karena berlari begitu cepat, bisa jadi waktu telah meninggalkannya. Seperti itulah kehidupan di kotanya yang memaksanya keluar dari zona nyaman agar berkembang, sementara ia tak sadar telah keluar begitu lama dan menjadi tamak akan perkembangan.

Kesadarannya akan fakta itu membuatnya sadar akan fakta yang lain. Ia tidak benar-benar tahu seberapa lama ia meninggalkan desanya, karena sibuk dengan kotanya. Tiba-tiba ia jadi rindu pada desanya.  Ia merasa sudah begitu lama tidak kesini. Oleh karena itu, pikirnya saat dia ada disini sebaiknya ia berkeliling menyapa teman-temannya dahulu atau penduduk desa lain. Maka ia melangkah keluar.

“Mau kemana nak Dedi?” Pak Amat menanyainya. “Saya mau silaturrahmi ke penduduk desa yang lain, lagipula sudah lama saya nggak ke desa saya ini.” Ia menjawab dengan senyum di wajahnya. Sambil membalikkan badan keluar ia berucap “Baik kalau begitu, makasih banyak ya, pak, Assala...” “Tapi ini bukan desa masa kecilmu.” Pak Amat memotong salamnya.

Jantungnya berhenti sesaat. Dia memang memendam rasa ragu sejak tadi. Sepertinya hampir semua yang dilihatnya belum ada di memorinya. Tapi, yang benar saja. Lantas kenapa Pak Amat ada disini? Dia menoleh ke arah Pak Amat. “Maksudnya?” Sekonyong-konyong dia menuju ke alam bawah sadarnya. Kesadarannya hilang sejenak. Ia merasa terlempar ke dunia lain.

*     *     *
Dia membuka mata. Yang ia lihat adalah loteng kamarnya, seperti tadi. Perlahan ia sadar kembali. “Hah? Apa ini? Tadi semua hanya mimpi?” Dia menyalakan handphonenya. “Sudah jam setengah enam, aku harus cepat-cepat” Dedi bangun dari tempat tidurnya, melangkah ke kamar mandi. Sebentar langkahnya berhenti. Dia merasa aneh. Tadi itu hanya mimpi, tapi ia bisa mengingatnya dengan jelas. Tempat yang disangkanya desanya, percakapannya dengan Pak Amat, juga kerinduan akan desanya. Kerinduan itu kembali mengganggu hatinya. Tiba-tiba Dedi jadi begitu takut akan kota yang sudah ditaklukkannya selama beberapa tahun ini. Ia begitu takut waktu akan meninggalkannya di kota ini.

Ia berbalik arah, mengambil kembali handphonenya. Dedi menelepon seseorang, asistennya. “Halo.” “Halo, maaf ada apa pak?” suara asistennya dari ujung lain telepon. “Saya akan cuti selama 6 bulan, tolong beritahu Pak Hendra dan tolong atur pekerjaan saya selama saya cuti.” “Tapi pak, bagaimana dengan projek yang belum selesai, kenapa begitu mendadak?” asistennya tampak begitu terkejut. “Saya harus kembali ke desa saya yang dahulu.” Jawab Dedi. “Desa bapak yang dahulu? Desa bapak yang mana?” asistennya kebingungan. “Desa saya yang n...” Dedi kehabisan kata-kata. Tidak ada sedikitpun informasi yang keluar dari memori otaknya kali ini. Kegelisahan membuncah di dada Dedi “Desaku yang mana? Apa aku pernah tinggal di desa?” Dia menutup telepon dengan tersipu malu.

Minggu, 10 Februari 2013

Aku Benci Hujan




Di persimpangan lorong waktumu dan waktuku
tempat kita pertama bertemu
Kau tersenyum menyapa
mengulurkan tangan
menutupi satu demi satu kemungkinan

Bagaimana aku bisa lupa senyummu
Kecuali itu yang melupakanku
atas kesedihan, atas hujan
dari balik pintu-pintu

Bagaimana kulupakan keramaian di persimpangan itu
Sungguhpun hanya ada kita
mencari setitik kebebasan di padang yang luas

Entah kenapa aku merasa sepi
saat senja temaram menampilkan mendung
Saat di persimpangan itu
tidak kutemu batang hidungmu

Mungkinkah kau datang lagi
ya, ke persimpangan itu
nah, aku hanya bisa menunggu
dibawah mendung muram

Aku melupakannya,
payungku
Barangkali aku harus segera pergi
sebelum langit mulai menangis
Karena aku benci hujan
dari langit, atau dari balik kantung matamu
waktu mereka sama-sama membasahi pundakku



Surabaya, 11 Februari 2013