Selasa, 04 Juni 2013

Membuat Procedure Function pada VB.net

Procedure dan Function adalah hal yang penting dipelajari dalam VB.net karena dengan menggunakan Procedure dan Function, sebuah program dapat disederhanakan dan troubleshootingnya akan lebih mudah dilaksanakan.

Berikut adalah contoh program sederhana yang menggunakan procedure function. Program ini terbagi menjadi dua. Satu untuk program bilangan fibonacci dan satunya lagi adalah program menentukan ganjil-genap bilangan.

Download program di link: http://www.mediafire.com/?zdol6macaio4c8v

Program Operasi Matriks 2 x 2



Dalam perhitungan matriks ada beberapa operasi yang dapat dilaksanakan, diantaranya adalah penjumlahan, perkalian, dan determinan. Operasi-operasi pada matriks agak rumit dan memerlukan ketelitian. Dengan program operasi matriks 2 x 2 operasi-operasi dalam matriks 2 x 2 dapat diselesaikan dengan cepat. 

Berikut adalah link download dari program, penjelasan, beserta flowchart program
penjelasan download di link: http://www.mediafire.com/?tmno63yh7gbi8vd
flowchart download di link: http://www.mediafire.com/?lpk8ar3uonzgcpa


Minggu, 14 April 2013

Angin Ini


Hari ini angin terdengar gaduh
namun sedikit kudengar angin ini menangis
Ia menangis bukan karena sedih,
melainkan bahagia, bukan?

Angin ini adalah temanku
bukan karena menyejukkan
bukan karena menenangkan
bukan karena menakutkan
karena ia menemaniku, maka
angin ini adalah temanku

Angin ini teman setia
Setia bersamaku
semenjak kakiku menginjak dunia
hingga maut menjelang
Aku sering melupakan angin ini
tapi ia selalu kutemukan bila aku mencarinya
angin ini teman setia

Aku tidak bisa terus bersama angin ini
Angin ini tahu, bukan?
Satu-satunya yang menemaniku nanti
hanyalah amalanku saja
Angin ini bahagia, bukan?
Melepasku atas panggilan Sang Pencipta,
yang selalu dipujanya
Angin ini mengerti, bukan?
Bahwa teman, kerabat, keluarga
adalah pinjaman Yang Maha Kuasa
akan diambil pada waktunya

Sementara angin ini masih menangis kecil kudengar
Aku mulai menangis sendiri pula
Apakah aku terlalu cinta dunia?

Aku tak punya waktu berpikir
Mendadak angin ini berubah nada, berubah rupa
Angin ini tiba-tiba membeku
Angin ini tiba-tiba menyesakkanku
Angin ini masih menjadi teman setiaku
untuk terakhir kali

Selasa, 09 April 2013

Ladang Hitam







Siapakah? Siapa pernah ke ladang hitam? Siapa pernah melihatnya? Apa benar kabar mereka? Mereka bilang disana layak, udara dan airnya menyegarkan. Mereka bilang disana aman, tak banyak bencana melanda, jagatnya dalam keseimbangan. Mereka bilang disana nyaman, siangnya mencerahkan, malamnya melelapkan. Mereka bilang disana subur, banyak kehidupan, berlimpah tetumbuhan. Mereka bilang disana indah, penuh dengan frekuensi nada dan warna berbeda. Apa benar kata mereka? Seistimewa itukah ladang hitam? Kenapa bisa demikian? Siapa yang diamanahi ladang hitam? Bagaimana kita kesana?

Mereka tidak memberitahu kecuali untuk menambah rasa ingin tahu. Masih banyak yang belum kita ketahui tentang ladang hitam. Siapapun, siapapun yang mengetahui, tolong beritahu kita tentang ladang hitam. Tolong beritahu kita kebenaran tentang ladang hitam!

Ladang hitam tidak seperti yang mereka katakan. Tepatnya, ladang hitam tidak lagi seperti yang mereka katakan. Yang mereka kabarkan itu tidak lain adalah ladang hitam 1000 atau 2000 hari lalu. Sekarang ladang hitam sudah berubah tajam. Ladang hitam seakan kelihangan kelayakan, keamanan, keseimbangan, kenyamanan, keindahan. Ladang hitam telah kecurian. Ladang hitam telah dihabiskan.

Siapa yang menghabiskan? Tidakkah ladang hitam itu kaya?

Ladang hitam sangatlah kaya. Ladang hitam sangatlah subur, tidak bisa dibandingkan dengan ladang kita. Hanya saja ladang hitam tidak sanggup melayani khalifahnya. Sekaya apapun ladang hitam, tak akan cukup untuk menuruti hawa nafsu khalifahnya. Maka jadilah ladang hitam dihabisi perlahan-lahan. Itulah yang akan kita jumpai bila kita ke ladang hitam sekarang, atau bahkan untuk seterusnya.

Seburuk itukah khalifah ladang hitam? Setamak itukah? Seperti apa khalifah ladang hitam? Tidak bisakah kita gantikan? Apakah kita tidak bisa mengubah ladang hitam menjadi lebih baik? Apakah ladang hitam sudah akan habis umurnya?

Ya, ladang hitam sudah mendekati akhir masanya. Atau setidaknya itu yang bisa kita lihat dari situasi ladang hitam bila menilik sabda Rasulullah. Karena itu sepertinya suasana ladang hitam tak akan lebih baik kecuali untuk sekejap masa. Ladang hitam pun makin buruk rupa dengan tingkah khalifah. Khalifah ladang hitam nyatanya diciptakan dalam keadaan sebaik-baiknya, tapi banyak dari khalifah itu berakhir pada tingkatan yang buruk. Khalifah dirasuki hawa nafsu dan khalifah ladang hitam sebelumnya yang iri hati. Sebagian dari khalifah bahkan membunuh sesama. Sebagian tidak saling mengerti dengan sebagian lain. Khalifah itu banyak yang hidup dalam politik, dalam trik, dengan licik. Khalifah itu banyak yang hidup dengan egois. Melakukan sesuatu hanya untuk kepentingan khalifah sendiri, bahkan sekalipun sesuatu itu bermanfaat untuk makhluk lain. Dan yang terparah, dengan semua nikmat yang diberikan Allah, justru banyak khalifah yang tidak bersyukur padaNya.

Sesungguhnya kita tidak yakin akan bisa menggantikan khalifah, karena bisa jadi kita akan berbuat lebih banyak kerusakan dari khalifah. Jika yang diciptakan sebaik-baiknya saja berbuat banyak kerusakan, apalagi kita? Tentu kita akan tergoda dengan megahnya ladang hitam. Kita tidak ingin menjadi seperti khalifah bukan? Hanya inilah berita yang bisa kita sampaikan menurut kebenaran kita, menurut apa yang kita saksikan.

Rasanya tidak ada yang bisa kita lakukan tentang berita ini. Tidak ada yang bisa kita lakukan terhadap ladang hitam. Baiklah kalau memang benar yang kita katakan.   

Tapi entah mengapa kita ingin kabar ini benar, tapi juga kita ingin ia salah untuk suatu yang lain. Layaknya bagaimana paragraf-paragraf ini dibuat, seperti mimpi buruk tentang kematian.

Jumat, 15 Februari 2013

Jejak yang Nyaris Hilang Disapu Hujan





Tapak sepatunya menghujani tanah yang agak lembab, meninggalkan jejak tipis yang nyaris hilang disapu hujan. Disekitarnya pepohonan berbagai jenis nan lebat begitu ramah memberi “tudung hujan” gratis pada orang lewat, selain memang selalu menyediakan udara segar yang dihirupnya dan mereka. Tanah lembab macam ini sudah lama tidak dipijak sepatu mengkilat milik dia, sementara sepatunya terbiasa aspal perkotaan yang keras. Begitu pula udara sesegar saat ini lama tak dihirupnya selagi paru-parunya terbiasa udara tercemar. Sudah begitu lama ia tidak merasakan suasana desa seperti yang dipikirnya desa masa kecilnya ini. Bahkan faktanya semenjak terakhir ke sana untuk mengajak orangtuanya pindah ke kota, dia belum pernah ke tempat yang bisa disebut desa. Tapi dia tidak merasakan. Rasanya baru kemarin dia berangkat dari desa itu.

Jejak langkahnya menuju tempat yang ia yakini sebagai desa masa kecilnya itu berhenti sejenak di beberapa tempat. Agaknya ia sudah lupa tentang desanya yang dulu begitu dihafalnya. Barangkali memori otaknya sudah cukup banyak terpakai untuk mengingat projek-projek industri besar yang dikerjakannya. Atau barangkali tempat ini memang belum pernah disinggahinya?

”Assalamu’alaikum, wah, nak Dedi, kapan kembali dari kota? Udah lama nggak kelihatan, Ayo mampir ke rumah bapak!” seorang bapak tua menegurnya. “Wa’alaikumsalam.” Dedi terkejut bertemu orang yang tidak dikenal tiba-tiba menawarinya mampir. Ia juga terkejut karena orang itu tahu namanya, namun Dedi tidak menganggapnya spesial, karena Dedi memang sangat terkenal di kotanya. Barangkali popularitasnya sudah sampai ke desa-desa, pikirnya. Sebagaimana yang biasa dilakukannya di kota pada orang yang tidak dikenalnya, Dedi secara spontan menolak ajakan orang tua itu. “Maaf pak, saya masih ada keperluan.” “Oh, ya sudah, kapan-kapan mampir, ya!” Dedi mengangguk. “Assalamu’alaikum!” “Wa’alaikumsalam.” Orang tua itu berjalan pelan meninggalkannya.

Dedi melanjutkan langkahnya, tapi tak lama dirasakan ada sesuatu yang dilupakannya. Dedi membalikkan badan ke arah orang tua tadi. Di belakang baju putihnya yang kusam tertulis tulisan hitam yang cukup jelas dibaca “TPA Al-Kahfi”. Garis kejadian berputar balik satu demi satu di depan matanya. Tunggu.

Setelah diingat-ingat, dia sadar. Ternyata bapak tadi adalah guru mengajinya dulu, Pak Amat. Betapa lama Dedi tidak mengunjunginya hingga lupa wajahnya. Pak Amat adalah seorang yang ramah dan bijak sejak dulu. Bila ia melihat murid-muridnya bermain-main saat sedang mengaji atau membuat kenakalan lain, ia tidak akan memarahi mereka melainkan menasihatinya. “Hati dan pikiran yang dipenuhi nafsu amarah tidak bisa digunakan untuk memecahkan masalah.” begitu katanya dulu. Bila nasihatnya tidak cukup, ia akan keluar dari pengajian dan menolak memberi pengajian bila yang diberi nasihat tidak mau berubah. Pada waktu itu, Dedi begitu mengagumi Pak Amat, dan bercita-cita ingin jadi ustad seperti Pak Amat. Begitu malunya dia karena sampai melupakan wajah Pak Amat. Sejenak kemudian Dedi menemukan dirinya mengikuti jejak yang nyaris hilang disapu hujan milik Pak Amat. 

*     *     *

Jejak itu berhenti di depan rumah yang merapuh karena usia, sebagaimana pemiliknya. Kemudian sesosok bayang keluar dari pintu kamar dalam rumah yang agak gelap karena mendung. Ia adalah Pak Amat. “Assalamu’alaikum.” Dedi menyapa “Wa’alaikumsalam, nak Dedi, ayo masuk!” ajak Pak Amat. “Hm, iya, boleh?” “Tentu boleh, bapak juga sedang tidak ada kerjaan, ayo!” Dedi melangkah masuk.

Setelah dipersilahkan duduk, Pak Amat meninggalkannya menuju dapur yang tidak begitu jauh di belakang. “Nggak perlu repot-repot pak.” “Tidak apa-apa.” Pak Amat yang berhenti sebentar untuk menoleh melanjutkan jalannya. Dedi yang terduduk di ruang tamu yang lumayan kecil itu mulai melirik-lirik, berharap menemukan petunjuk tentang memorinya dahulu yang ternyata sudah nyaris terkikis habis. Tapi rasanya itu tidak akan berjalan baik, karena seingatnya dia belum pernah ke tempat itu. Akhirnya ia hanya termenung di ruangan itu. Lama. Ia mengantuk. Sesaat Dedi melihat loteng, mirip loteng kamarnya.

Ketika Dedi membuka mata, Pak Amat sudah duduk didepannya dengan dua cangkir kopi di meja. “Nak Dedi kelelahan, ya? Kalau begitu malam ini nginap disini saja, ya?” “Eh, nggak, nggak apa-apa, cuma agak bosan tadi.” Sejenak Dedi ragu akan apa yang terjadi dengannya. “Oh, ya sudah kalau memang begitu” Pak Amat melanjutkan “Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan ibu dan bapak?” Maka setelah itu dimulailah percakapan antara dua orang laki-laki seperti yang biasa kita lihat di kedai-kedai, ditemani kopi hangat yang begitu cocok dengan temperatur di luar, temperatur yang sangat jarang ditemui Dedi di kotanya.

Mereka bercakap dengan santai, membiarkan kata demi kata keluar dari pita suara dan diterima gendang telinga dengan mudah, tanpa tekanan, tanpa tergagap, tanpa dikejar waktu. Biarpun diluar hujan yang mulai deras menghasilkan suara yang tidak kecil, tapi mereka bisa mendengar dengan begitu jelas, seperti tidak ada informasi yang tertinggalkan setiap mereka berucap. Begitu pula, Dedi merasakan waktu berjalan. Ia bisa melihat setiap gerakan jarum panjang jam dinding di ruang tamu itu. Waktu terasa melambat, menunggu dengan sabar tiap-tiap suara yang dibuat mereka bergerak pelan agar tak terluka. Lagipula, ia tak punya suatupun yang menunggunya, maka ia bisa bebas menunggu semaunya. Percakapan mereka kelihatan akan segera mencapai akhirnya.

Saat itu Dedi sadar. Ia tak pernah merasakan waktu berjalan belakangan ini, saat di kotanya. Waktu begitu cepat di kotanya. Saat melakukan sesuatu, ia telah berpikir tentang hal lain yang akan dilakukan setelahnya. Saat mengatakan sesuatu, ia harus berpikir apa yang akan dijumpainya akibat itu. Waktu tidak menunggu di kotanya, waktu tidak memberi banyak kesempatan, tidak melonggarkan tekanan. Sekali dia terpeleset karena berlari begitu cepat, bisa jadi waktu telah meninggalkannya. Seperti itulah kehidupan di kotanya yang memaksanya keluar dari zona nyaman agar berkembang, sementara ia tak sadar telah keluar begitu lama dan menjadi tamak akan perkembangan.

Kesadarannya akan fakta itu membuatnya sadar akan fakta yang lain. Ia tidak benar-benar tahu seberapa lama ia meninggalkan desanya, karena sibuk dengan kotanya. Tiba-tiba ia jadi rindu pada desanya.  Ia merasa sudah begitu lama tidak kesini. Oleh karena itu, pikirnya saat dia ada disini sebaiknya ia berkeliling menyapa teman-temannya dahulu atau penduduk desa lain. Maka ia melangkah keluar.

“Mau kemana nak Dedi?” Pak Amat menanyainya. “Saya mau silaturrahmi ke penduduk desa yang lain, lagipula sudah lama saya nggak ke desa saya ini.” Ia menjawab dengan senyum di wajahnya. Sambil membalikkan badan keluar ia berucap “Baik kalau begitu, makasih banyak ya, pak, Assala...” “Tapi ini bukan desa masa kecilmu.” Pak Amat memotong salamnya.

Jantungnya berhenti sesaat. Dia memang memendam rasa ragu sejak tadi. Sepertinya hampir semua yang dilihatnya belum ada di memorinya. Tapi, yang benar saja. Lantas kenapa Pak Amat ada disini? Dia menoleh ke arah Pak Amat. “Maksudnya?” Sekonyong-konyong dia menuju ke alam bawah sadarnya. Kesadarannya hilang sejenak. Ia merasa terlempar ke dunia lain.

*     *     *
Dia membuka mata. Yang ia lihat adalah loteng kamarnya, seperti tadi. Perlahan ia sadar kembali. “Hah? Apa ini? Tadi semua hanya mimpi?” Dia menyalakan handphonenya. “Sudah jam setengah enam, aku harus cepat-cepat” Dedi bangun dari tempat tidurnya, melangkah ke kamar mandi. Sebentar langkahnya berhenti. Dia merasa aneh. Tadi itu hanya mimpi, tapi ia bisa mengingatnya dengan jelas. Tempat yang disangkanya desanya, percakapannya dengan Pak Amat, juga kerinduan akan desanya. Kerinduan itu kembali mengganggu hatinya. Tiba-tiba Dedi jadi begitu takut akan kota yang sudah ditaklukkannya selama beberapa tahun ini. Ia begitu takut waktu akan meninggalkannya di kota ini.

Ia berbalik arah, mengambil kembali handphonenya. Dedi menelepon seseorang, asistennya. “Halo.” “Halo, maaf ada apa pak?” suara asistennya dari ujung lain telepon. “Saya akan cuti selama 6 bulan, tolong beritahu Pak Hendra dan tolong atur pekerjaan saya selama saya cuti.” “Tapi pak, bagaimana dengan projek yang belum selesai, kenapa begitu mendadak?” asistennya tampak begitu terkejut. “Saya harus kembali ke desa saya yang dahulu.” Jawab Dedi. “Desa bapak yang dahulu? Desa bapak yang mana?” asistennya kebingungan. “Desa saya yang n...” Dedi kehabisan kata-kata. Tidak ada sedikitpun informasi yang keluar dari memori otaknya kali ini. Kegelisahan membuncah di dada Dedi “Desaku yang mana? Apa aku pernah tinggal di desa?” Dia menutup telepon dengan tersipu malu.

Minggu, 10 Februari 2013

Aku Benci Hujan




Di persimpangan lorong waktumu dan waktuku
tempat kita pertama bertemu
Kau tersenyum menyapa
mengulurkan tangan
menutupi satu demi satu kemungkinan

Bagaimana aku bisa lupa senyummu
Kecuali itu yang melupakanku
atas kesedihan, atas hujan
dari balik pintu-pintu

Bagaimana kulupakan keramaian di persimpangan itu
Sungguhpun hanya ada kita
mencari setitik kebebasan di padang yang luas

Entah kenapa aku merasa sepi
saat senja temaram menampilkan mendung
Saat di persimpangan itu
tidak kutemu batang hidungmu

Mungkinkah kau datang lagi
ya, ke persimpangan itu
nah, aku hanya bisa menunggu
dibawah mendung muram

Aku melupakannya,
payungku
Barangkali aku harus segera pergi
sebelum langit mulai menangis
Karena aku benci hujan
dari langit, atau dari balik kantung matamu
waktu mereka sama-sama membasahi pundakku



Surabaya, 11 Februari 2013

Senin, 04 Februari 2013

Tentang Tauhid







Tersebutlah seorang syaikh yang menulis sebuah kitab tentang pentingnya tauhid. Ia menjelaskannya kepada muridnya dan terus mengulang-ulang penjelasannya. Suatu hari murid-muridnya meminta agar syaikh tersebut mengganti pembahasannya. Syaikh tersebut mempertimbangkan permintaan murid-muridnya.
Keesokan harinya dia keluar dengan raut wajah sedih, dan ketika murid-muridnya menanyakan perihal apa yangmenyebabkan kesedihannya, ia menjawab “Aku mendengar seorang laki-laki dari kampung tetangga menempati rumah baru, dia takut diganggu jin, maka dia menyembelih seekor ayam jantan di depan pintu rumahnya untuk mendekatkan diri pada jin, aku telah mengirim seseorang untuk mencari kebenaran berita tersebut”. Muridnya tidak bereaksi terhadap berita tersebut, mereka hanya berdoa meminta hidayah bagi orang tersebut, dan mereka hanya terdiam.
Keesokan harinya syaikh itu kembali menemui mereka dan berkata “Kami telah mendapatkan kejelasan peristiwa tersebut, ternyata peristiwanya tidak seperti yang aku dengar, lelaki itu tidak menyembelih ayam untuk jin, tapi yang dia lakukan adalah berzina dengan ibunya”. Spontan mereka gempar dengan kemarahan, “Perbuatannya harus digugat, dia harus dinasihati, dia harus dihukum” dan banyak lagi umpatan mereka.
Kemudian syaikh berkata “Sungguh aneh kalian ini, begitukah reaksi kalian mengingkari orang yang melakukan dosa besar, padahal perbuatannya itu tidak mengeluarkannnya dari Islam, sedangkan kalian tidak mengingkari orang yang terjerumus dalam kemusyrikan, menyembelih untuk selain Allah dan mengalamatkan ibadah selain untuk Allah?”. Murid-muridnya terdiam, kemudian syaikh menunjuk salah seorang dari mereka dan berkata, “Bangun dan ambilkan kitab Tauhid, kita akan membahasnya dari awal”

Mengherankan memang, tapi setidaknya kurang lebih hal semacam itulah yang terjadi disekitar kita. Ummat Islam di sekeliling kita, khususnya Indonesia seperti lebih mementingkan urusan-urusan lain seperti urusan fiqh, tata krama, atau hal lainnya ketimbang urusan tauhid. Sementara Al-Quran dan hadits menyampaikan dengan jelas bahwa perkara tauhid yaitu perkara mengesakan Allah adalah yang paling pertama dan paling mendasar dalam Islam sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran, “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah.” (Muhammad: 19) atau hadits Rasulullah, “Jadikanlah perkara yang pertama kali kamu dakwahkan ialah agar mereka mentauhidkan Allah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Kita saksikan saat ini cukup banyak media yang menjadi perantara untuk belajar agama, tapi seperti melupakan masalah tauhid. Stasiun-stasiun Televisi cukup banyak menayangkan acara-acara Islami seperti ceramah agama dan sebagainya tapi yang dipaparkan tak jauh-jauh dari perihal kesempurnaan ibadah, bagaimana mendapat keuntungan dari ibadah, atau bahkan bagaimana menjaga hubungan rumah tangga yang sakinah. Sedangkan sangat sedikit (atau bisa dikatakan tidak ada) yang membahas permasalahan bagaimana seharusnya seorang muslim beriman kepada Allah maupun makhlukNya yang diwajibkan bagi kita mengimaninya atau perihal tauhid yang lain. Pun begitu dengan media cetak. Begitu banyak buku-buku bertemakan Islam ditulis oleh penulis-penulis muslim Indonesia. Tapi topiknya juga tidak begitu jauh dari perihal ibadah, percintaan yang Islami, dan sebagainya, sementara perihal tauhid sangat sedikit dibahas. Demikian pula beberapa majalah-majalah Islam yang beredar di Indonesia, kurang lebih juga sama. Memang ada yang cukup banyak membahas perihal tauhid, tapi itupun tidak terlalu populer di kalangan pembaca muslim.
Demikian juga dengan kebanyakan pendidikan Islam di Indonesia yang berlangsung saat ini. Banyak sekolah-sekolah memberikan pelajaran Islam kebanyakan berupa tata cara wudhu, shalat, puasa, hafalan Al-Quran, makna ayat Al-Quran dan lainnya. Banyak juga memang pelajaran tentang tauhid, tapi pelajaran tauhid yang diajarkan seperti beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasulNya, hari akhir, dan taqdir tersebut seperti hanya sekedarnya saja. Murid-murid diajari rukun iman, tapi tidak benar-benar dijelaskan bagaimana seharusnya pengimplementasiannya. Sebagaimana yang penulis rasakan sendiri, seperti ada sebuah sugesti bagi pelajar yang belajar pelajaran Islam di banyak sekolah-sekolah bahwa perihal iman ini adalah begitu simpel, hal yang sudah dimiliki seluruh muslim, yaitu hanya perihal kepercayaan, jadi seorang muslim cukup percaya bahwa Allah itu ada, malaikat Allah itu ada, dan sebagainya. Di lain pihak, para pelajar pun tidak terlalu menganggap pelajaran yang berkaitan dengan tauhid. Padahal dari pendidikan dasar atau sekolah tingkat dasarlah harusnya diawali pendidikan tauhid, karena pelajar-pelajar tersebut yang akan menjadi masa depan ummat muslim.
Pada kenyataanya, tauhid bukanlah hal yang begitu mudah dipahami maupun diimplementasikan oleh ummat muslim. Jika memang tauhid adalah hal yang begitu mudah bagi ummat, tentu tidak akan kita temukan banyak aliran-aliran sesat yang tidak hanya melenceng dalam fiqh ibadah, tapi juga dalam Ketuhanan. Begitu pula mestinya tidak kita temukan upacara-upacara yang melenceng karena menduakan Allah dalam pelaksanaannya seperti shalat di kuburan, berdoa dengan perantara orang meninggal, menyajikan sesajen,juga masih banyak lagi hal-hal melenceng lain dari prinsip ketauhidan yang kita temui di sekitar ummat.
Kita juga mesti melihat salah satu hadits,Diriwayatkan oleh Imam Thabrani, “Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammmad di tangan-Nya, akan berpecah umatku sebanyak 73 firqah, yang satu masuk Syurga dan yang lain masuk Neraka.” Bertanya para Sahabat: “Siapakah (yang tidak masuk Neraka) itu Ya Rasulullah?” Nabi menjawab: “Ahlussunnah wal Jamaah.” dan juga seharusnya hadits ini menjadi renungan buat kita karena hadits ini harusnya menyadarkan kita bahwa dalam Islam pun masih banyak terjadi kesalahan-kesalahan persepsi Ketuhanan atau Ketauhidan, disengaja ataupun tidak.
Mengapa kita bisa begitu menyepelekan perkara tauhid? Apakah karena kebanyakan dari kita mendapatkan status keislaman karena keturunan, sehingga kita menganggap tidak perlu belajar tentang Islam dari dasar lagi? Jika memang itu alasannya, maka itu menjawab kenapa cukup banyak mualaf yang begitu masuk Islam langsung terkenal dan biasanya menjadi ustadz. Selain karena kisahnya yang menarik didengar, juga karena mereka mesti belajar Islam dari dasar, yang biasanya diabaikan orang yang masuk Islam karena keturunan. Nah, paragraf ini (dan mungkin beberapa paragraf lainnya) semata-mata hanya merupakan opini dari penulis yang tidak didasari dengan data apapun, maka penulis tidak memaksa pembaca untuk mempercayai maupun menanggapinya.
Tidak bermaksud merendahkan pelajaran atau pengetahuan tentang fiqh maupun perihal lainnya, hanya penulis memang menganggap bahwa pengetahuan tentang tauhid masih begitu sedikit dan juga begitu terlambat kita terima sebagai ummat muslim, dan masih kurang mendapat perhatian lebih. 

Senin, 14 Januari 2013

Post Pertama

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ






Sebagai pemula dalam dunia blog, dengan tidak adanya pengalaman sama sekali sebelumnya, memulai suatu blog adalah hal yang sangat sulit, apalagi bila sendirian. Saya masih bingung dengan berbagai hal. Mulai seperti apa tampilan blog yang akan saya buat sampai post-post dalam blog ini.

Sebenarnya saya tidaklah benar-benar berniat masuk ke dunia blog dengan elemen-elemennya yang masih memandang saya sebagai orang awam. Tapi saya pikir ini adalah suatu langkah awal yang cukup meyakinkan buat tujuan saya jika saya bisa merubah pandangan saya terhadap dunia blog dan elemen-elemennya, atau bahkan jika mereka dapat merubah pandangannya terhadap saya. Tujuan yang saya maksudkan ialah menjadi seorang penulis.

Saya berpikir bahwa seorang penulis adalah orang yang berwawasan luas dan intelijen karena seorang penulis tentu akan menulis tentang berbagai topik sesuai dengan keinginannya maupun perkembangan minat pembaca untuk mempertahankan eksistensinya sebagai penulis. Sedangkan untuk menulis tentang suatu topik seorang penulis tentu harus punya pengetahuan tentang topik yang ingin ditulis dan harus bisa menganalisanya. Dari berbagai pengalaman menulis tentang berbagai topik, seorang penulis akan punya wawasan dan kemampuan analisa yang kuat. Satu kalimat yang saya ingat begitu memotivasi saya menjadi penulis:
"Satu peluru hanya menembus satu kepala, satu tulisan bisa menembus seribu kepala"
Jauh dari hal-hal diatas, saya punya tujuan yang cukup besar, saya ingin menggoresi tembok sejarah dengan pena saya, dengan tulisan saya, dan meskipun nantinya saya tidak cukup dikenal, saya harap tulisan-tulisan saya akan dibaca orang banyak dan bermanfaat bagi mereka. Cita-cita ini memang cukup sulit untuk dicapai. Tapi saya yakin bisa jika saya memberikan cukup usaha, disertai do'a.

Saya ketahui bahwa blog adalah suatu media yang sangat mudah untuk dijalankan, dalam artian tidak membutuhkan biaya, dan tidak perlu meluangkan waktu khusus untuk menjaganya eksis. Dari sini saya juga sadar bahwa begitu banyak orang yang menggunakan dan memanfaatkan blog untuk berbagai kepentingannnya masing-masing karena alasan diatas. Maka akan ada persaingan tersendiri didalam dunia blog ini untuk mempertahankan eksistensi blog-blog dengan tulisan-tulisan didalamnya. Saya paham bahwa persaingan di dunia blog tidaklah ringan dan oleh karena itu saya akan berusaha memberikan tulisan-tulisan terbaik saya yang InsyaAllah bermanfaat bagi orang lain di dalam blog saya ini. Sesuai dengan title blog ini, isi blog ini adalah random (acak) sesuai yang saya inginkan. Tapi saya akan berusaha memberikan kualitas sebaik mungkin yang saya bisa. Terakhir, saya berharap melalui tulisan-tulisan di blog saya ini saya bisa mengungkapkan ekspresi saya dan memberikan manfaat yang banyak untuk orang lain.



وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ