Tersebutlah seorang syaikh yang menulis sebuah kitab tentang pentingnya tauhid. Ia menjelaskannya kepada muridnya dan terus mengulang-ulang penjelasannya. Suatu hari murid-muridnya meminta agar syaikh tersebut mengganti pembahasannya. Syaikh tersebut mempertimbangkan permintaan murid-muridnya.
Keesokan
harinya dia keluar dengan raut wajah sedih, dan ketika murid-muridnya
menanyakan perihal apa yangmenyebabkan kesedihannya, ia menjawab “Aku mendengar
seorang laki-laki dari kampung tetangga menempati rumah baru, dia takut
diganggu jin, maka dia menyembelih seekor ayam jantan di depan pintu rumahnya
untuk mendekatkan diri pada jin, aku telah mengirim seseorang untuk mencari
kebenaran berita tersebut”. Muridnya tidak bereaksi terhadap berita tersebut,
mereka hanya berdoa meminta hidayah bagi orang tersebut, dan mereka hanya
terdiam.
Keesokan
harinya syaikh itu kembali menemui mereka dan berkata “Kami telah mendapatkan
kejelasan peristiwa tersebut, ternyata peristiwanya tidak seperti yang aku
dengar, lelaki itu tidak menyembelih ayam untuk jin, tapi yang dia lakukan
adalah berzina dengan ibunya”. Spontan mereka gempar dengan kemarahan,
“Perbuatannya harus digugat, dia harus dinasihati, dia harus dihukum” dan banyak
lagi umpatan mereka.
Kemudian
syaikh berkata “Sungguh aneh kalian ini, begitukah reaksi kalian mengingkari
orang yang melakukan dosa besar, padahal perbuatannya itu tidak
mengeluarkannnya dari Islam, sedangkan kalian tidak mengingkari orang yang
terjerumus dalam kemusyrikan, menyembelih untuk selain Allah dan mengalamatkan
ibadah selain untuk Allah?”. Murid-muridnya terdiam, kemudian syaikh menunjuk
salah seorang dari mereka dan berkata, “Bangun dan ambilkan kitab Tauhid, kita
akan membahasnya dari awal”
Mengherankan memang, tapi setidaknya kurang lebih hal semacam itulah yang terjadi disekitar kita. Ummat Islam di sekeliling kita, khususnya Indonesia seperti lebih mementingkan urusan-urusan lain seperti urusan fiqh, tata krama, atau hal lainnya ketimbang urusan tauhid. Sementara Al-Quran dan hadits menyampaikan dengan jelas bahwa perkara tauhid yaitu perkara mengesakan Allah adalah yang paling pertama dan paling mendasar dalam Islam sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran
Kita saksikan saat ini cukup banyak
media yang menjadi perantara untuk belajar agama, tapi seperti melupakan
masalah tauhid. Stasiun-stasiun Televisi cukup banyak menayangkan acara-acara
Islami seperti ceramah agama dan sebagainya tapi yang dipaparkan tak jauh-jauh
dari perihal kesempurnaan ibadah, bagaimana mendapat keuntungan dari ibadah,
atau bahkan bagaimana menjaga hubungan rumah tangga yang sakinah. Sedangkan
sangat sedikit (atau bisa dikatakan tidak ada) yang membahas permasalahan
bagaimana seharusnya seorang muslim beriman kepada Allah maupun makhlukNya yang
diwajibkan bagi kita mengimaninya atau perihal tauhid yang lain. Pun begitu
dengan media cetak. Begitu banyak buku-buku bertemakan Islam ditulis oleh
penulis-penulis muslim Indonesia. Tapi topiknya juga tidak begitu jauh dari
perihal ibadah, percintaan yang Islami, dan sebagainya, sementara perihal
tauhid sangat sedikit dibahas. Demikian pula beberapa majalah-majalah Islam
yang beredar di Indonesia, kurang lebih juga sama. Memang ada yang cukup banyak
membahas perihal tauhid, tapi itupun tidak terlalu populer di kalangan pembaca
muslim.
Demikian juga dengan kebanyakan
pendidikan Islam di Indonesia yang berlangsung saat ini. Banyak sekolah-sekolah
memberikan pelajaran Islam kebanyakan berupa tata cara wudhu, shalat, puasa,
hafalan Al-Quran, makna ayat Al-Quran dan lainnya. Banyak juga memang pelajaran
tentang tauhid, tapi pelajaran tauhid yang diajarkan seperti beriman kepada
Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasulNya, hari akhir, dan taqdir
tersebut seperti hanya sekedarnya saja. Murid-murid diajari rukun iman, tapi
tidak benar-benar dijelaskan bagaimana seharusnya pengimplementasiannya.
Sebagaimana yang penulis rasakan sendiri, seperti ada sebuah sugesti bagi
pelajar yang belajar pelajaran Islam di banyak sekolah-sekolah bahwa perihal
iman ini adalah begitu simpel, hal yang sudah dimiliki seluruh muslim, yaitu
hanya perihal kepercayaan, jadi seorang muslim cukup percaya bahwa Allah itu
ada, malaikat Allah itu ada, dan sebagainya. Di lain pihak, para pelajar pun
tidak terlalu menganggap pelajaran yang berkaitan dengan tauhid. Padahal dari
pendidikan dasar atau sekolah tingkat dasarlah harusnya diawali pendidikan
tauhid, karena pelajar-pelajar tersebut yang akan menjadi masa depan ummat
muslim.
Pada kenyataanya, tauhid bukanlah hal
yang begitu mudah dipahami maupun diimplementasikan oleh ummat muslim. Jika
memang tauhid adalah hal yang begitu mudah bagi ummat, tentu tidak akan kita
temukan banyak aliran-aliran sesat yang tidak hanya melenceng dalam fiqh
ibadah, tapi juga dalam Ketuhanan. Begitu pula mestinya tidak kita temukan upacara-upacara yang melenceng karena menduakan Allah dalam
pelaksanaannya seperti shalat di kuburan, berdoa dengan perantara orang
meninggal, menyajikan sesajen,juga masih banyak lagi hal-hal melenceng lain dari
prinsip ketauhidan yang kita temui di sekitar ummat.
Kita juga mesti melihat salah satu
hadits,Diriwayatkan oleh Imam Thabrani, “Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammmad di
tangan-Nya, akan berpecah umatku sebanyak 73 firqah, yang satu masuk Syurga dan
yang lain masuk Neraka.” Bertanya para Sahabat: “Siapakah (yang tidak masuk Neraka) itu Ya Rasulullah?” Nabi
menjawab: “Ahlussunnah wal Jamaah.” dan juga seharusnya
hadits ini menjadi renungan buat kita karena hadits ini harusnya menyadarkan
kita bahwa dalam Islam pun masih banyak terjadi kesalahan-kesalahan persepsi
Ketuhanan atau Ketauhidan, disengaja ataupun tidak.
Mengapa kita bisa begitu menyepelekan
perkara tauhid? Apakah karena kebanyakan dari kita mendapatkan status keislaman
karena keturunan, sehingga kita menganggap tidak perlu belajar tentang Islam
dari dasar lagi? Jika memang itu alasannya, maka itu menjawab kenapa cukup
banyak mualaf yang begitu masuk Islam langsung terkenal dan biasanya menjadi
ustadz. Selain karena kisahnya yang menarik didengar, juga karena mereka mesti
belajar Islam dari dasar, yang biasanya diabaikan orang yang masuk Islam karena
keturunan. Nah, paragraf ini (dan mungkin beberapa paragraf lainnya) semata-mata hanya merupakan opini
dari penulis yang tidak didasari dengan data apapun, maka penulis tidak memaksa
pembaca untuk mempercayai maupun menanggapinya.
Tidak bermaksud merendahkan pelajaran
atau pengetahuan tentang fiqh maupun perihal lainnya, hanya penulis memang
menganggap bahwa pengetahuan tentang tauhid masih begitu sedikit dan juga
begitu terlambat kita terima sebagai ummat muslim, dan masih kurang mendapat
perhatian lebih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar