Tapak sepatunya menghujani tanah yang agak
lembab, meninggalkan jejak tipis yang nyaris hilang disapu hujan. Disekitarnya
pepohonan berbagai jenis nan lebat begitu ramah memberi “tudung hujan” gratis
pada orang lewat, selain memang selalu menyediakan udara segar yang dihirupnya
dan mereka. Tanah lembab macam ini sudah lama tidak dipijak sepatu mengkilat
milik dia, sementara sepatunya terbiasa aspal perkotaan yang keras. Begitu pula
udara sesegar saat ini lama tak dihirupnya selagi paru-parunya terbiasa udara
tercemar. Sudah begitu lama ia tidak merasakan suasana desa seperti yang
dipikirnya desa masa kecilnya ini. Bahkan faktanya semenjak terakhir ke sana
untuk mengajak orangtuanya pindah ke kota, dia belum pernah ke tempat yang bisa
disebut desa. Tapi dia tidak merasakan. Rasanya baru kemarin dia berangkat dari
desa itu.
Jejak langkahnya menuju tempat yang ia yakini
sebagai desa masa kecilnya itu berhenti sejenak di beberapa tempat. Agaknya ia
sudah lupa tentang desanya yang dulu begitu dihafalnya. Barangkali memori otaknya
sudah cukup banyak terpakai untuk mengingat projek-projek industri besar yang
dikerjakannya. Atau barangkali tempat ini memang belum pernah disinggahinya?
”Assalamu’alaikum, wah, nak Dedi, kapan
kembali dari kota? Udah lama nggak kelihatan, Ayo mampir ke rumah bapak!”
seorang bapak tua menegurnya. “Wa’alaikumsalam.” Dedi terkejut bertemu orang
yang tidak dikenal tiba-tiba menawarinya mampir. Ia juga terkejut karena orang
itu tahu namanya, namun Dedi tidak menganggapnya spesial, karena Dedi memang
sangat terkenal di kotanya. Barangkali popularitasnya sudah sampai ke
desa-desa, pikirnya. Sebagaimana yang biasa dilakukannya di kota pada orang
yang tidak dikenalnya, Dedi secara spontan menolak ajakan orang tua itu. “Maaf
pak, saya masih ada keperluan.” “Oh, ya sudah, kapan-kapan mampir, ya!” Dedi
mengangguk. “Assalamu’alaikum!” “Wa’alaikumsalam.” Orang tua itu berjalan pelan
meninggalkannya.
Dedi melanjutkan langkahnya, tapi tak lama
dirasakan ada sesuatu yang dilupakannya. Dedi membalikkan badan ke arah orang
tua tadi. Di belakang baju putihnya yang kusam tertulis tulisan hitam yang
cukup jelas dibaca “TPA Al-Kahfi”. Garis kejadian berputar balik satu demi satu
di depan matanya. Tunggu.
Setelah diingat-ingat, dia sadar. Ternyata
bapak tadi adalah guru mengajinya dulu, Pak Amat. Betapa lama Dedi tidak
mengunjunginya hingga lupa wajahnya. Pak Amat adalah seorang yang ramah dan
bijak sejak dulu. Bila ia melihat murid-muridnya bermain-main saat sedang
mengaji atau membuat kenakalan lain, ia tidak akan memarahi mereka melainkan
menasihatinya. “Hati dan pikiran yang dipenuhi nafsu amarah tidak bisa
digunakan untuk memecahkan masalah.” begitu katanya dulu. Bila nasihatnya tidak
cukup, ia akan keluar dari pengajian dan menolak memberi pengajian bila yang
diberi nasihat tidak mau berubah. Pada waktu itu, Dedi begitu mengagumi Pak
Amat, dan bercita-cita ingin jadi ustad seperti Pak Amat. Begitu malunya dia
karena sampai melupakan wajah Pak Amat. Sejenak kemudian Dedi menemukan dirinya
mengikuti jejak yang nyaris hilang disapu hujan milik Pak Amat.
* * *
Jejak itu berhenti di depan rumah yang merapuh
karena usia, sebagaimana pemiliknya. Kemudian sesosok bayang keluar dari pintu
kamar dalam rumah yang agak gelap karena mendung. Ia adalah Pak Amat.
“Assalamu’alaikum.” Dedi menyapa “Wa’alaikumsalam, nak Dedi, ayo masuk!” ajak
Pak Amat. “Hm, iya, boleh?” “Tentu boleh, bapak juga sedang tidak ada kerjaan,
ayo!” Dedi melangkah masuk.
Setelah dipersilahkan duduk, Pak Amat
meninggalkannya menuju dapur yang tidak begitu jauh di belakang. “Nggak perlu
repot-repot pak.” “Tidak apa-apa.” Pak Amat yang berhenti sebentar untuk
menoleh melanjutkan jalannya. Dedi yang terduduk di ruang tamu yang lumayan
kecil itu mulai melirik-lirik, berharap menemukan petunjuk tentang memorinya
dahulu yang ternyata sudah nyaris terkikis habis. Tapi rasanya itu tidak akan
berjalan baik, karena seingatnya dia belum pernah ke tempat itu. Akhirnya ia
hanya termenung di ruangan itu. Lama. Ia mengantuk. Sesaat Dedi melihat loteng,
mirip loteng kamarnya.
Ketika Dedi membuka mata, Pak Amat sudah duduk
didepannya dengan dua cangkir kopi di meja. “Nak Dedi kelelahan, ya? Kalau
begitu malam ini nginap disini saja, ya?” “Eh, nggak, nggak apa-apa, cuma agak
bosan tadi.” Sejenak Dedi ragu akan apa yang terjadi dengannya. “Oh, ya sudah
kalau memang begitu” Pak Amat melanjutkan “Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan
ibu dan bapak?” Maka setelah itu dimulailah percakapan antara dua orang
laki-laki seperti yang biasa kita lihat di kedai-kedai, ditemani kopi hangat
yang begitu cocok dengan temperatur di luar, temperatur yang sangat jarang
ditemui Dedi di kotanya.
Mereka bercakap dengan santai, membiarkan kata
demi kata keluar dari pita suara dan diterima gendang telinga dengan mudah,
tanpa tekanan, tanpa tergagap, tanpa dikejar waktu. Biarpun diluar hujan yang
mulai deras menghasilkan suara yang tidak kecil, tapi mereka bisa mendengar
dengan begitu jelas, seperti tidak ada informasi yang tertinggalkan setiap mereka
berucap. Begitu pula, Dedi merasakan waktu berjalan. Ia bisa melihat setiap
gerakan jarum panjang jam dinding di ruang tamu itu. Waktu terasa melambat,
menunggu dengan sabar tiap-tiap suara yang dibuat mereka bergerak pelan agar
tak terluka. Lagipula, ia tak punya suatupun yang menunggunya, maka ia bisa
bebas menunggu semaunya. Percakapan mereka kelihatan akan segera mencapai
akhirnya.
Saat itu Dedi sadar. Ia tak pernah merasakan
waktu berjalan belakangan ini, saat di kotanya. Waktu begitu cepat di kotanya. Saat
melakukan sesuatu, ia telah berpikir tentang hal lain yang akan dilakukan
setelahnya. Saat mengatakan sesuatu, ia harus berpikir apa yang akan
dijumpainya akibat itu. Waktu tidak menunggu di kotanya, waktu tidak memberi
banyak kesempatan, tidak melonggarkan tekanan. Sekali dia terpeleset karena
berlari begitu cepat, bisa jadi waktu telah meninggalkannya. Seperti itulah
kehidupan di kotanya yang memaksanya keluar dari zona nyaman agar berkembang, sementara
ia tak sadar telah keluar begitu lama dan menjadi tamak akan perkembangan.
Kesadarannya akan fakta itu membuatnya sadar
akan fakta yang lain. Ia tidak benar-benar tahu seberapa lama ia meninggalkan
desanya, karena sibuk dengan kotanya. Tiba-tiba ia jadi rindu pada desanya. Ia merasa sudah begitu lama tidak kesini. Oleh
karena itu, pikirnya saat dia ada disini sebaiknya ia berkeliling menyapa teman-temannya
dahulu atau penduduk desa lain. Maka ia melangkah keluar.
“Mau kemana nak Dedi?” Pak Amat menanyainya. “Saya
mau silaturrahmi ke penduduk desa yang lain, lagipula sudah lama saya nggak ke
desa saya ini.” Ia menjawab dengan senyum di wajahnya. Sambil membalikkan badan
keluar ia berucap “Baik kalau begitu, makasih banyak ya, pak, Assala...” “Tapi
ini bukan desa masa kecilmu.” Pak Amat memotong salamnya.
Jantungnya berhenti sesaat. Dia memang memendam
rasa ragu sejak tadi. Sepertinya hampir semua yang dilihatnya belum ada di
memorinya. Tapi, yang benar saja. Lantas kenapa Pak Amat ada disini? Dia
menoleh ke arah Pak Amat. “Maksudnya?” Sekonyong-konyong dia menuju ke alam
bawah sadarnya. Kesadarannya hilang sejenak. Ia merasa terlempar ke dunia lain.
* * *
Dia membuka mata. Yang ia lihat adalah loteng
kamarnya, seperti tadi. Perlahan ia sadar kembali. “Hah? Apa ini? Tadi semua
hanya mimpi?” Dia menyalakan handphonenya.
“Sudah jam setengah enam, aku harus cepat-cepat” Dedi bangun dari tempat
tidurnya, melangkah ke kamar mandi. Sebentar langkahnya berhenti. Dia merasa
aneh. Tadi itu hanya mimpi, tapi ia bisa mengingatnya dengan jelas. Tempat yang
disangkanya desanya, percakapannya dengan Pak Amat, juga kerinduan akan desanya.
Kerinduan itu kembali mengganggu hatinya. Tiba-tiba Dedi jadi begitu takut akan
kota yang sudah ditaklukkannya selama beberapa tahun ini. Ia begitu takut waktu
akan meninggalkannya di kota ini.
Ia berbalik arah, mengambil kembali handphonenya. Dedi menelepon seseorang,
asistennya. “Halo.” “Halo, maaf ada apa pak?” suara asistennya dari ujung lain
telepon. “Saya akan cuti selama 6 bulan, tolong beritahu Pak Hendra dan tolong
atur pekerjaan saya selama saya cuti.” “Tapi pak, bagaimana dengan projek yang
belum selesai, kenapa begitu mendadak?” asistennya tampak begitu terkejut. “Saya
harus kembali ke desa saya yang dahulu.” Jawab Dedi. “Desa bapak yang dahulu?
Desa bapak yang mana?” asistennya kebingungan. “Desa saya yang n...” Dedi
kehabisan kata-kata. Tidak ada sedikitpun informasi yang keluar dari memori
otaknya kali ini. Kegelisahan membuncah di dada Dedi “Desaku yang mana? Apa aku
pernah tinggal di desa?” Dia menutup telepon dengan tersipu malu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar