Jumat, 15 Februari 2013

Jejak yang Nyaris Hilang Disapu Hujan





Tapak sepatunya menghujani tanah yang agak lembab, meninggalkan jejak tipis yang nyaris hilang disapu hujan. Disekitarnya pepohonan berbagai jenis nan lebat begitu ramah memberi “tudung hujan” gratis pada orang lewat, selain memang selalu menyediakan udara segar yang dihirupnya dan mereka. Tanah lembab macam ini sudah lama tidak dipijak sepatu mengkilat milik dia, sementara sepatunya terbiasa aspal perkotaan yang keras. Begitu pula udara sesegar saat ini lama tak dihirupnya selagi paru-parunya terbiasa udara tercemar. Sudah begitu lama ia tidak merasakan suasana desa seperti yang dipikirnya desa masa kecilnya ini. Bahkan faktanya semenjak terakhir ke sana untuk mengajak orangtuanya pindah ke kota, dia belum pernah ke tempat yang bisa disebut desa. Tapi dia tidak merasakan. Rasanya baru kemarin dia berangkat dari desa itu.

Jejak langkahnya menuju tempat yang ia yakini sebagai desa masa kecilnya itu berhenti sejenak di beberapa tempat. Agaknya ia sudah lupa tentang desanya yang dulu begitu dihafalnya. Barangkali memori otaknya sudah cukup banyak terpakai untuk mengingat projek-projek industri besar yang dikerjakannya. Atau barangkali tempat ini memang belum pernah disinggahinya?

”Assalamu’alaikum, wah, nak Dedi, kapan kembali dari kota? Udah lama nggak kelihatan, Ayo mampir ke rumah bapak!” seorang bapak tua menegurnya. “Wa’alaikumsalam.” Dedi terkejut bertemu orang yang tidak dikenal tiba-tiba menawarinya mampir. Ia juga terkejut karena orang itu tahu namanya, namun Dedi tidak menganggapnya spesial, karena Dedi memang sangat terkenal di kotanya. Barangkali popularitasnya sudah sampai ke desa-desa, pikirnya. Sebagaimana yang biasa dilakukannya di kota pada orang yang tidak dikenalnya, Dedi secara spontan menolak ajakan orang tua itu. “Maaf pak, saya masih ada keperluan.” “Oh, ya sudah, kapan-kapan mampir, ya!” Dedi mengangguk. “Assalamu’alaikum!” “Wa’alaikumsalam.” Orang tua itu berjalan pelan meninggalkannya.

Dedi melanjutkan langkahnya, tapi tak lama dirasakan ada sesuatu yang dilupakannya. Dedi membalikkan badan ke arah orang tua tadi. Di belakang baju putihnya yang kusam tertulis tulisan hitam yang cukup jelas dibaca “TPA Al-Kahfi”. Garis kejadian berputar balik satu demi satu di depan matanya. Tunggu.

Setelah diingat-ingat, dia sadar. Ternyata bapak tadi adalah guru mengajinya dulu, Pak Amat. Betapa lama Dedi tidak mengunjunginya hingga lupa wajahnya. Pak Amat adalah seorang yang ramah dan bijak sejak dulu. Bila ia melihat murid-muridnya bermain-main saat sedang mengaji atau membuat kenakalan lain, ia tidak akan memarahi mereka melainkan menasihatinya. “Hati dan pikiran yang dipenuhi nafsu amarah tidak bisa digunakan untuk memecahkan masalah.” begitu katanya dulu. Bila nasihatnya tidak cukup, ia akan keluar dari pengajian dan menolak memberi pengajian bila yang diberi nasihat tidak mau berubah. Pada waktu itu, Dedi begitu mengagumi Pak Amat, dan bercita-cita ingin jadi ustad seperti Pak Amat. Begitu malunya dia karena sampai melupakan wajah Pak Amat. Sejenak kemudian Dedi menemukan dirinya mengikuti jejak yang nyaris hilang disapu hujan milik Pak Amat. 

*     *     *

Jejak itu berhenti di depan rumah yang merapuh karena usia, sebagaimana pemiliknya. Kemudian sesosok bayang keluar dari pintu kamar dalam rumah yang agak gelap karena mendung. Ia adalah Pak Amat. “Assalamu’alaikum.” Dedi menyapa “Wa’alaikumsalam, nak Dedi, ayo masuk!” ajak Pak Amat. “Hm, iya, boleh?” “Tentu boleh, bapak juga sedang tidak ada kerjaan, ayo!” Dedi melangkah masuk.

Setelah dipersilahkan duduk, Pak Amat meninggalkannya menuju dapur yang tidak begitu jauh di belakang. “Nggak perlu repot-repot pak.” “Tidak apa-apa.” Pak Amat yang berhenti sebentar untuk menoleh melanjutkan jalannya. Dedi yang terduduk di ruang tamu yang lumayan kecil itu mulai melirik-lirik, berharap menemukan petunjuk tentang memorinya dahulu yang ternyata sudah nyaris terkikis habis. Tapi rasanya itu tidak akan berjalan baik, karena seingatnya dia belum pernah ke tempat itu. Akhirnya ia hanya termenung di ruangan itu. Lama. Ia mengantuk. Sesaat Dedi melihat loteng, mirip loteng kamarnya.

Ketika Dedi membuka mata, Pak Amat sudah duduk didepannya dengan dua cangkir kopi di meja. “Nak Dedi kelelahan, ya? Kalau begitu malam ini nginap disini saja, ya?” “Eh, nggak, nggak apa-apa, cuma agak bosan tadi.” Sejenak Dedi ragu akan apa yang terjadi dengannya. “Oh, ya sudah kalau memang begitu” Pak Amat melanjutkan “Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan ibu dan bapak?” Maka setelah itu dimulailah percakapan antara dua orang laki-laki seperti yang biasa kita lihat di kedai-kedai, ditemani kopi hangat yang begitu cocok dengan temperatur di luar, temperatur yang sangat jarang ditemui Dedi di kotanya.

Mereka bercakap dengan santai, membiarkan kata demi kata keluar dari pita suara dan diterima gendang telinga dengan mudah, tanpa tekanan, tanpa tergagap, tanpa dikejar waktu. Biarpun diluar hujan yang mulai deras menghasilkan suara yang tidak kecil, tapi mereka bisa mendengar dengan begitu jelas, seperti tidak ada informasi yang tertinggalkan setiap mereka berucap. Begitu pula, Dedi merasakan waktu berjalan. Ia bisa melihat setiap gerakan jarum panjang jam dinding di ruang tamu itu. Waktu terasa melambat, menunggu dengan sabar tiap-tiap suara yang dibuat mereka bergerak pelan agar tak terluka. Lagipula, ia tak punya suatupun yang menunggunya, maka ia bisa bebas menunggu semaunya. Percakapan mereka kelihatan akan segera mencapai akhirnya.

Saat itu Dedi sadar. Ia tak pernah merasakan waktu berjalan belakangan ini, saat di kotanya. Waktu begitu cepat di kotanya. Saat melakukan sesuatu, ia telah berpikir tentang hal lain yang akan dilakukan setelahnya. Saat mengatakan sesuatu, ia harus berpikir apa yang akan dijumpainya akibat itu. Waktu tidak menunggu di kotanya, waktu tidak memberi banyak kesempatan, tidak melonggarkan tekanan. Sekali dia terpeleset karena berlari begitu cepat, bisa jadi waktu telah meninggalkannya. Seperti itulah kehidupan di kotanya yang memaksanya keluar dari zona nyaman agar berkembang, sementara ia tak sadar telah keluar begitu lama dan menjadi tamak akan perkembangan.

Kesadarannya akan fakta itu membuatnya sadar akan fakta yang lain. Ia tidak benar-benar tahu seberapa lama ia meninggalkan desanya, karena sibuk dengan kotanya. Tiba-tiba ia jadi rindu pada desanya.  Ia merasa sudah begitu lama tidak kesini. Oleh karena itu, pikirnya saat dia ada disini sebaiknya ia berkeliling menyapa teman-temannya dahulu atau penduduk desa lain. Maka ia melangkah keluar.

“Mau kemana nak Dedi?” Pak Amat menanyainya. “Saya mau silaturrahmi ke penduduk desa yang lain, lagipula sudah lama saya nggak ke desa saya ini.” Ia menjawab dengan senyum di wajahnya. Sambil membalikkan badan keluar ia berucap “Baik kalau begitu, makasih banyak ya, pak, Assala...” “Tapi ini bukan desa masa kecilmu.” Pak Amat memotong salamnya.

Jantungnya berhenti sesaat. Dia memang memendam rasa ragu sejak tadi. Sepertinya hampir semua yang dilihatnya belum ada di memorinya. Tapi, yang benar saja. Lantas kenapa Pak Amat ada disini? Dia menoleh ke arah Pak Amat. “Maksudnya?” Sekonyong-konyong dia menuju ke alam bawah sadarnya. Kesadarannya hilang sejenak. Ia merasa terlempar ke dunia lain.

*     *     *
Dia membuka mata. Yang ia lihat adalah loteng kamarnya, seperti tadi. Perlahan ia sadar kembali. “Hah? Apa ini? Tadi semua hanya mimpi?” Dia menyalakan handphonenya. “Sudah jam setengah enam, aku harus cepat-cepat” Dedi bangun dari tempat tidurnya, melangkah ke kamar mandi. Sebentar langkahnya berhenti. Dia merasa aneh. Tadi itu hanya mimpi, tapi ia bisa mengingatnya dengan jelas. Tempat yang disangkanya desanya, percakapannya dengan Pak Amat, juga kerinduan akan desanya. Kerinduan itu kembali mengganggu hatinya. Tiba-tiba Dedi jadi begitu takut akan kota yang sudah ditaklukkannya selama beberapa tahun ini. Ia begitu takut waktu akan meninggalkannya di kota ini.

Ia berbalik arah, mengambil kembali handphonenya. Dedi menelepon seseorang, asistennya. “Halo.” “Halo, maaf ada apa pak?” suara asistennya dari ujung lain telepon. “Saya akan cuti selama 6 bulan, tolong beritahu Pak Hendra dan tolong atur pekerjaan saya selama saya cuti.” “Tapi pak, bagaimana dengan projek yang belum selesai, kenapa begitu mendadak?” asistennya tampak begitu terkejut. “Saya harus kembali ke desa saya yang dahulu.” Jawab Dedi. “Desa bapak yang dahulu? Desa bapak yang mana?” asistennya kebingungan. “Desa saya yang n...” Dedi kehabisan kata-kata. Tidak ada sedikitpun informasi yang keluar dari memori otaknya kali ini. Kegelisahan membuncah di dada Dedi “Desaku yang mana? Apa aku pernah tinggal di desa?” Dia menutup telepon dengan tersipu malu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar